BANDA ACEH – Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) melalui Primary Health Care Research and Innovation Center IMERI menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Kapasitas Tenaga Kesehatan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dan Komunikasi Antarpribadi (KAP) Imunisasi, Kamis (22/10/2026), di Aula Bapelkes Aceh.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Studi UNDERVAC-ID (Understanding Determinants of and Reaching Under-Vaccinated and Zero-Dose Children in Indonesia), yaitu studi multi-level, partisipatif, dan menggunakan metode campuran (mixed-method) yang dilaksanakan oleh IMERI-FKUI di sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kota Banda Aceh.
Pelatihan diikuti oleh perwakilan dari 11 UPTD Puskesmas se-Kota Banda Aceh yang terdiri atas koordinator imunisasi (Korim), bidan penanggung jawab desa, petugas promosi kesehatan, dan penanggung jawab Klaster 2. Kegiatan ini juga melibatkan tenaga kesehatan dari RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), RSIA, RSUD Meuraxa, serta kader Posyandu dari desa terpilih.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, S.STP., M.Si., melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), drg. Supriady R., M.Kes., menyampaikan bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan imunisasi sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
Menurutnya, upaya menjangkau anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi (zero-dose) maupun anak dengan status imunisasi tidak lengkap memerlukan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari peningkatan kompetensi teknis tenaga kesehatan hingga kemampuan berkomunikasi secara efektif dan empatik dengan orang tua.
“Tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memahami aspek teknis imunisasi dan penanganan KIPI, tetapi juga harus mampu memberikan informasi yang benar, menjawab keraguan masyarakat, serta membangun kepercayaan orang tua. Komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya atas pelayanan imunisasi,” ujarnya.
Studi UNDERVAC-ID: Tantangan Imunisasi Tidak Hanya soal Akses
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Ichsan dari Universitas Syiah Kuala yang memaparkan hasil Studi UNDERVAC-ID di wilayah Aceh. Studi tersebut menunjukkan bahwa persoalan anak zero-dose dan anak dengan imunisasi tidak lengkap dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Pada tingkat keluarga, keraguan orang tua dipengaruhi oleh isu halal dan haram, kekhawatiran terhadap KIPI, pengalaman buruk sebelumnya, serta keterbatasan pengetahuan, sikap, dan praktik terkait imunisasi (Knowledge, Attitude, and Practice/KAP).

Sementara itu, pada tingkat tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, tantangan meliputi beban kerja, keterampilan komunikasi dalam menghadapi keraguan orang tua, serta menurunnya kepercayaan sebagian masyarakat terhadap pelayanan kesehatan pascapandemi.
Dari sisi sistem dan lingkungan sosial, keterlibatan keuchik, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dinilai penting dalam mendukung penerimaan imunisasi. Ketersediaan data sasaran yang akurat juga diperlukan untuk memudahkan penelusuran anak yang belum mendapatkan imunisasi atau belum melengkapi jadwal imunisasinya.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya penguatan kapasitas tenaga kesehatan, tidak hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam membangun komunikasi yang humanis dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Penguatan Kapasitas KIPI dan Tatalaksana Kegawatdaruratan
Materi kedua disampaikan oleh Dr. dr. Raihan, Sp.A., dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aceh mengenai penguatan kapasitas tenaga kesehatan terkait KIPI dan imunisasi.
Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa KIPI merupakan kejadian medis yang terjadi setelah imunisasi dan tidak selalu memiliki hubungan sebab-akibat dengan vaksin yang diberikan. KIPI dapat berkaitan dengan reaksi terhadap produk vaksin, cacat mutu vaksin, kesalahan prosedur imunisasi (program error), reaksi kecemasan, maupun kejadian koinsiden yang terjadi secara kebetulan setelah imunisasi.
Para peserta juga mendapatkan penguatan mengenai tatalaksana kegawatdaruratan, termasuk penanganan reaksi anafilaksis pascaimunisasi, serta mekanisme pelaporan dan investigasi KIPI sesuai dengan pedoman Kementerian Kesehatan.
Melalui materi ini, tenaga kesehatan diharapkan semakin siap dalam melakukan pemantauan, mengenali tanda kegawatdaruratan, memberikan penanganan yang tepat, serta melaksanakan pelaporan KIPI secara benar dan sesuai prosedur.
Komunikasi Empatik Menjadi Kunci Membangun Kepercayaan
Materi ketiga mengenai etika dan strategi komunikasi dalam pelayanan imunisasi disampaikan oleh Dr. Hendra Syahputra, M.M., dari UIN Ar-Raniry. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan program imunisasi tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin dan akses pelayanan, tetapi juga pada kemampuan tenaga kesehatan membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat.
Beberapa prinsip utama yang ditekankan meliputi pendekatan empatik tanpa menghakimi kekhawatiran orang tua, penyampaian informasi secara jujur dan transparan mengenai manfaat serta risiko imunisasi, penggunaan bahasa sederhana yang mudah dipahami, dan upaya membangun kepercayaan secara berkelanjutan.
Peserta juga diperkenalkan dengan teknik Ask–Listen–Affirm, yaitu menanyakan kekhawatiran orang tua, mendengarkan secara aktif tanpa memotong pembicaraan, dan mengakui perasaan atau kekhawatiran mereka sebelum memberikan penjelasan berdasarkan fakta dan informasi kesehatan yang tepat.
Selain itu, pelibatan tokoh lokal seperti keuchik, imam gampong, tokoh agama, dan kader Posyandu menjadi strategi penting dalam meningkatkan penerimaan imunisasi. Pendekatan melalui pihak-pihak yang telah dipercaya masyarakat diharapkan dapat membantu menjembatani keraguan serta mendorong partisipasi keluarga dalam pelayanan imunisasi.
Wujudkan Pelayanan Imunisasi yang Aman dan Terpercaya
Melalui pelatihan ini, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh berharap kapasitas tenaga kesehatan semakin meningkat dalam menangani KIPI, memberikan pelayanan imunisasi sesuai standar, serta melakukan komunikasi yang efektif kepada orang tua, termasuk dalam menghadapi keraguan dan kondisi khusus pada anak.
Penguatan kompetensi tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan cakupan imunisasi, memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, dan mempercepat upaya penjangkauan anak zero-dose maupun anak dengan imunisasi tidak lengkap di Kota Banda Aceh.
Dengan kolaborasi tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, kader, serta tokoh masyarakat, upaya mewujudkan pelayanan imunisasi yang aman, berkualitas, dan dipercaya masyarakat dapat terus diperkuat demi melindungi kesehatan anak sejak dini.
